Karya Wregas Bhanuteja Sebelum Penyalin Cahaya

Nama Wregas Bhanuteja disebut dua kali pada puncak acara Malam Anugerah FFI 2021 di JCC Senayan, Jakarta Pusat. Lulusan Institut Kesenian Jakarta 2014 itu dinobatkan sebagai sutradara terbaik dan filmnya, Penyalin Cahaya, meraih Piala Citra sebagai film terbaik.

“Pemenang film panjang terbaik adalah Penyalin Cahaya, Produksi Rekata Studio,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim yang mengumumkannya pada Rabu, 10 November 2021.

Penyalin Cahaya berkisah tentang kekerasan seksual di lingkungan kampus. Seorang mahasiswa harus kehilangan beasiswanya, karena dianggap mencemarkan nama baik fakultas seusai swafotonya dalam keadaan mabuk beredar.

Bagi Wregas, Penyalin Cahaya adalah film panjang pertamanya. Ia mengaku telah melewati perjalanan yang panjang dan tidak mudah membuat karya di tengah pandemi. “Saya tidak akan berhasil melewati semua ini tanpa dukungan dari orang-orang yang mempercayai saya begitu dalam.”

Wregas lahir dengan nama lengkap Raphael Wregas Bhanuteja pada 20 Oktober 1992, di Yogyakarta. Mulai berkecimpung menjadi sutradara dan penulis skenario amatir sejak sekolah di SMA De Britto College Yogyakarta. Setelah lulus dari SMA pada 2010, Wregas kuliah di Fakultas Film dan TV, Institut Kesenian Jakarta, jurusan penyutradaraan film.

Selama studinya, Wregas menghasilkan beberapa film pendek. Berikut film-film pendek Wregas:

1. Senyawa (2012) Adaptasi dari film seluloid 16 mm.

2. Lemantun (2014)Wregas lulus dari Institut Kesenian Jakarta dengan tugas akhir film pendek ini yang bercerita tentang lemari warisan neneknya.

Lemantun meraih beberapa penghargaan film pendek terbaik, yaitu dalam Festival Film Pendek XXI 2015 dan Apresiasi Film Indonesia 2015.

3. Lembusura (2014)

Film ini yang berkisah tentang letusan Gunung Kelud. Lembusura masuk seleksi di Berlin International Film Festival ke65 tahun 2015, bersaing di bagian Berlinale Shorts Competition. Lembusura mengantarkan Wregas dinobatkan sebagai sutradara termuda di festival pada usia 22 tahun.

4. The Floating Chopin (2015) Ia menginterpretasi lagu Chopin Larung oleh band Guruh Gipsy alias Guruh Soekarnoputra.

5. Prenjak (2016) Wregas bekerja sama dengan Studio Batu Yogyakarta untuk membuat film ini. Prenjak tentang seorang wanita yang menjual korek api di Yogyakarta.

Film ini mengantarnya menjadi sutradara Indonesia pertama yang menerima penghargaan di Festival Film Cannes. Film pendek Prenjak terpilih dalam Semaine de la Critique ke55, Festival Film Cannes 2016 dan dianugerahi Leica Cine Discovery Prize untuk film pendek.

6. Tak Ada Yang Gila Di Kota Ini/No One Is Crazy In This Town (2019),

Ini diadaptasi dari cerita pendek dengan judul yang sama karya Eka Kurniawan. Film ini menceritakan kisah Marwan, diperankan oleh Oka Antara yang diperintahkan untuk mengasingkan orang-orang dengan gangguan jiwa ke hutan.

Film ini terpilih untuk mengikuti kompetisi Wide Angle: Asian Short Film Competition sebagai bagian dari Festival Film Internasional Busan yang diadakan pada 3-12 Oktober 2019 di Busan, Korea Selatan.

Berikutnya, Wregas menyutradarai film panjang pertamanya bertajuk Penyalin Cahaya.

HENDRIK KHOIRUL MUHID | EK

Film pendek Prenjak mengantar Wregas Bhanuteja menjadi sutradara Indonesia pertama yang menerima penghargaan di Festival Film Cannes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.